Kiai Milenial Berikan Motivasi kepada Santri Ponpes ASR: Menjadi Santri Hebat



Pallangga, 15/9/2025 – Pondok Pesantren Ahlus Shidqi war Rahmah (ASR) menghadirkan Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat atau LP2M UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Prof. Dr. H. Muhammad Muntahibun Nafis, M.Ag., yang dikenal sebagai Kiyai Milenial untuk memberikan motivasi kepada para santri Ponpes ASR.

Pada kesempatan tersebut, turut hadir mendampingi, Direktur Ponpes ASR, Dr. Hj. Aisyah Arsyad, M.A, Kepala Kepesantrenan Ust. Mirsan, M,Ag., dan Kepala SMP ASR, Ust. Nasarullah, M.Pd., para pembina, serta seluruh santri. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Aula Ponpes ASR milik Yayasan Asmar Abadi Fondation yang dipimpin oleh Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka, S.E dan Ibu Arinta Nila Hapsari.

Direktur Ponpes ASR pada sambutannya memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada Prof. Muntahibun Nafis yang akrab disapa Abah Nafis karena telah bersedia menyisihkan waktunya untuk berjumpa dengan para santri Ponpes ASR di tengah kesibukannya yang sangat padat.

Dalam pemaparannya, Prof. Nafis memberikan motivasi kepada para santri untuk bisa semangat dan bersabar dalam menjalani pendidikan di pesantren. Menurutnya pesantren adalah tempat yang dapat menimpa karakter para santri sehingga mereka siap menjalani kehidupan di kemudian hari.

Menurut Prof. Nafis, meskipun hidup di dunia pesantren sangat sulit karena harus bangun sebelum subuh dan terus menerus mengaji, tetapi hasil dari pendidikan pesantren tersebutlah yang membuat hidupnya berubah menjadi lebih baik, bahkan sampai membawanya ke luar negeri. Ia sangat percaya pesan Al-Qur’an bahwa Allah swt akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu.

Pemaparan yang menarik dari Prof. Nafis mengundang rasa penasaran dari para santri untuk mengajukan pertanyaan sehingga terjadi dialog yang sangat asyik antara mereka, khususnya dari Ananda Rafanda dan Ananda Faqih yang mengajukan pertanyaan terkait keistimewaan seorang santri dan tantangan kehidupan remaja saat ini di tengah perkembangan dunia internet.

Prof. Nafis menjawab pertanyaan tersebut dengan penuh hikmah bahwa para santri harus bersyukur menjadi santri karena bisa dijauhkan dari mudarat yang dihadirkan oleh internet dan dapat memfokuskan diri untuk mendalami ilmu agama. Demikian pula kedisiplinan yang diterapkan di pesantren akan menjadi bekal yang sangat berharga karena karakter tidak bisa terbentuk dalam satu malam tetapi dalam waktu yang lama dan itulah yang dilatih di dalam pesantren.

Menutup pemaparannya, Prof. Nafis kembali memberikan pesan-pesan berharga kepada para santri yang mungkin menghadapi kendala dalam proses belajarnya. Ia berpesan agar santri tidak berputus asa meskipun tidak bisa langsung memahami pelajaran karena sejatinya ilmu tidak bisa didapatkan secara instan, butuh semangat dan jihad yang kuat dalam menuntut ilmu.